22 Juni 2011

Dream

image is taken from here
Aku berjalan merasakan semilir angin dan bau tanah yang baru saja dihempas hujan. Baunya segar sekali, serasa lahir kembali di saat itu. Aku merentangkan kedua tangan dan menghirup udara itu sedalam-dalamnya, memenuhi rongga paru-paruku yang sempit, menahannya lama hingga wajahku mulai sesak keracunan karbondioksida, dan melepaskannya perlahan.

Kegiatan tak penting ini terhenti ketika kurasakan getar di kejauhan, mendekat dengan cepat dan membuat batu-batu kecil di sekelilingku berderak, berloncatan gembira seperti anak kecil berumur dua tahun diberi permen. Kereta berasap yang sudah jarang aku temukan di padatnya ibukota, terlihat kecil di ujung sana. Ia seperti merangkak keluar dari kaki gunung biru yang tertutup awan putih tebal diatasnya, dan ia pun mengepulkan asap putih keabuan yang sama dari cerobongnya.

Aku menatapnya penuh cita, seperti menunggu cintaku pulang setelah lama tak bertemu. Ia tak lama menatapku yang penuh rindu, wajahnya berpaling dengan cepat, meninggalkan jejaknya dibelakang, menertawai diriku yang terlalu memendam rasa, padahal ia tak sama sekali peduli. Datang hilang, terbang hinggap, berenang menyelam dan tenggelam, atau tertawa dan menangis, begitu cepat berlalu seperti semua hal itu.
Ketika ujung kakinya berlalu, aku menatapnya hingga menghilang di ujung horizon. 


Batas cakrawala yang dirimu jumpai mungkin tidak pernah singgah dimataku yang sempit, seperti suara peluit kereta lain, stasiun dan orang-orang, atau masinis yang bosan dengan rutinitas menjemukan. Kamu disana, kereta yang kutatap penuh decak, yang kusorot hingga ujung batas mata, yang kutahu jumlah gerbongnya ada lima belas, dan yang kutahu, pengemudimu sering melambaikan tangan dan membunyikan peluitnya setiap ia melihatku yang menunggumu setia.

Ah, desau deru angin menghempasku kembali ke alam nyata. Kembali melihat hamparan gunung dan sawah yang Tuhan ciptakan begitu elok untuk direkam kameraku. Aku duduk diatas jalanmu, memastikan bahwa prinsip pemuaian logam oleh radiasi matahari masih terbukti. Arrgh, panas!

Kuputuskan untuk berjalan menjauh dari sisi dimana matahari senang menyorotkan sinarnya. Kucoba duduk kembali, dan kutemukan logam jalanmu cukup dingin untuk diduduki.

Aku mengambil tas cangklong hitamku dan meletakkannya diatas batu kerikil ditengah jalanmu. Kucoba tidur diatasnya, berbantalkan tas, dengan atap langit biru ciptaan Tuhan, dan deru angin sebagai pengganti AC.

Melintangkan tubuh diatas jalanmu, jika disini adalah ibukota, mungkin orang-orang menganggapku gila. Semua orang yang melihatku akan langsung menarikku menjauh dari jalanmu dan menceramahiku tentang dosa bunuh diri. Ah, mereka tidak tahu bagaimana rasanya tidur di tengah rel kereta api bukan?

Damai sayang, itu yang orang kaya picik cari di tumpukan harta haram mereka.

Aku merasa begitu kosong disana, kuputuskan untuk tersesat, dan entah mengapa naluriku mengantarkanku selalu ke tempat yang sama. Tempat yang kubilang ujung rasa. Karena sungguh, aku hanya ingin tersesat ke tempat berbeda untuk setiap kali aku merasa sendirian dan ingin menghilang. Namun kakiku tak bisa diajak kompromi, selalu mengantarku melihatmu, dengan gunung dan sawahnya, deru angin, rel kereta, langit biru, dan setelah itu, tertidur pulas di tengah jalur perjalananmu.

Lalu semua berhenti, berputar di pusat rotasi, tersedot ke lubang hitam, dan memuntahkannya dalam potongan cerita berbeda. Aku berada di padang luas, ada beberapa ilalang yang tajam menyayat ujung jariku, meneteskan bercak darah dan menodai hijaunya rumput di tempatku berpijak. Yang kurasakan bukan sakit, hanya ada rasa ingin berlari. Lalu aku putuskan berlari, entah kemana, entah dengan tujuan apa, tanpa lelah, hanya ada rasa bebas yang terasa.

Lalu aku berhenti. Kelebatan padang di sampingku otomatis berhenti. Lalu aku terdiam menatap langit, mendungnya terasa kesini, tunjukku ke tengah dada, tempat yang orang bilang hati. Lalu bulir tangis itu tak terasa mengotori tanganku, membuat tanah kering menjadi basah dan membuatku ingin mencoreng mukaku dengan tanah. Muak!

Ku teriakkan kekesalanku, entah kepada diriku sendiri, dirimu, diri mereka, diri kita, diri kalian, diri semua orang, diri setiap manusia. Meneriakkan setiap hal yang terlintas dalam kepala, membuncah dan menyeruak dari sisi bawah sadar, memompa bulir tangis semakin deras, dan menyiutkan padang menyusut kembali pada lubang hitam, pusat rotasi, dan kembali pada bumi.

Aku tersadar masih dalam mimpi, di tengah rel kereta yang nyaman ini. Punggungku sepertinya mulai pegal, tak heran, tidur hanya dengan beralaskan batu, dan posisi tidurku tak berubah, sejak tidur hingga bangun kembali. Aku menguap lebar, merasakan sendi luncur yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakangku berderik seperti pintu tua di cerita horor. Aku bangun secepatnya karena kudengar getar rel terdengar keras.

Kereta kedua hari ini, sekaligus kereta terakhir. Senyumnya kulihat di balik awan yang sudah menuruni puncak gunung. Kulihat lambaian masinis dengan topinya yang sudah miring ke kanan, hari sudah cukup senja dan ia tampak lelah, hanya ingin segera pulang dan mandi, melepas lelah bersama istri dan anak tercinta.

Aku menarik tas cangklong hitamku yang tergeletak di samping rel, untung tidak terlindas karena aku terburu-buru tadi. Kuambil kamera, kuabadikan ujung kakimu, kereta keduaku, dengan latar senja yang merayap malam, awan jingga merah yang malu-malu seperti pipi soleram, dan batara suryaku yang mengucapkan selamat tinggal.

Lalu aku menarik nafas, mengirupnya dalam-dalam, memenuhi rongga paru-paruku, menahannya hingga wajahku membiru karena teracuni karbondioksida, lalu melepasnya perlahan.

Kurasa orang menganggapku gila.

Tidak, bukan. Mereka hanya tidak mengerti, bahwa ini adalah satu-satunya cara meredakan kegilaan bawah sadarku, yang menumpuk akibat kelelahan emosional dan psikis yang aku dapat setiap hari, dan sebuah ujung dimana aku memulai kembali hari yang baru dengan wajah dan semangat baru.

Tanpa ujung rasa ini, justru aku bisa gila.

2 komentar:

  1. kenapa non?
    lagi galau lagi?

    BalasHapus
  2. engga bukan, aku sering mimpi gitu mbak.
    mimpi tiduran, mimpi liat kereta, lari-lari, terus nangis, haha. aneh. :)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...